Jumat, 18 Desember 2009 11:20
LONDON (Berita SuaraMedia) – Seorang ayah dari etnis Kurdi didakwa dan divonis penjara seumur hidup karena membunuh anak perempuannya yang berusia 15 tahun karena jatuh cinta dengan seorang penganut aliran Islam yang berbeda dengannya.
Seorang hakim di London memberikan Mehmet Goren, 49, hukuman penjara minimum 22 tahun untuk honor killing (pembunuhan mengatasnamakan kehormatan keluarga) yang dilakukannya terhadap sang putri, Tulay, yang menghilang sepuluh tahun lalu dan tidak pernah ditemukan hingga kini. Ia juga didakwa karena telah menyerang kekasih putrinya dengan sebuah kapak.
Jaksa penuntut Damakris Lakin mengatakan bahwa penjual fish and chip (makanan khas Inggris dari ikan dan kentang goreng) membunuh putrinya karena menjalin hubungan dengan seorang Muslim Sunni. Keluarga Goren adalah penganut aliran Alevi, yang terkait dengan aliran Syiah.
"Ia membunuh putrinya sendiri karena meyakini bahwa putrinya itu telah mempermalukannya," ujar Lakin kepada pengadilan.
Para juri juga mendengar bahwa Mehmet begitu marah setelah mengetahui hubungan Tulay dan memukulinya.
"Vonis terhadap dirinya hari ini menunjukkan bahwa rasa malu yang sebenarnya akan selalu menjadi tanggungannya."
Polisi meyakini bahwa Tulay dibunuh pada tanggal 7 Januari 1999, di rumah keluarganya di Woodford Green, London utara, saat ia sendirian bersama sang ayah. Jasadnya dikabarkan sempat dikubur sementara di kebun rumah sebelum kemudian dibuang ke tempat lain.
Pacarnya, Halil Unal, melaporkan hilangnya Tulay dua minggu kemudian, sekitar waktu Mehmet Goren menyerangnya dengan kapak.
Polisi tidak pernah mengetahui bagaimana Tulay dibunuh, namun mengatakan bahwa ia telah menghilang terlalu lama untuk secara resmi dinyatakan meninggal.
Bukti-bukti yang muncul bertahun-tahun kemudian setelah menghilangnya Tulay mengarahkan polisi di tahun 2008 untuk menahan Mehmet Goren dan dua saudara laki-lakinya. Ketiga pria itu dituduh melakukan pembunuhan, namun dau saudara laki-lakinya, Cuma, 42, dan Ali, 56, dibebaskan pada hari Kamis.
Tulay masih duduk di bangku sekolah ketika ia mulai menjalin hubungan dengan Unal, seorang pria berusia 30 tahun, yang juga keturunan Kurdi Turki seperti dirinya.
Seorang investigator polisi, John MacDonald, mengutip pernyataan pengadilan yang ditulis oleh saudara perempuan Tulay, Nuray, yang berbunyi, "Tulay terjebak dalam dua dunia yang bertentangan. Tradisi dan kebiasaan kami telah menghalangi apa yang sangat Tulay inginkan."
Sang ayah menolak keinginan keluarga untuk mengidentifikasi di mana jenazah Tulay berada.
Salah satu saudara laki-lakinya yang dibebaskan kemudian membantah bahwa telah terjadi honor killing. Ia mengatakan bahwa ia yakin Tulay masih hidup. "Tidak ada hal semacam itu dalam budaya kami," ujar Cuma Goren kepada Channel 4 News, Inggris.
Dalam pemeriksaan silang terhadap Ibu Tulay, Hanim, pengacara Mehmet, Michael Turner bahkan mengklaim bahwa remaja itu mungkin telah melarikan diri untuk menjadi gerilayawan bagi kemerdekaan suku Kurdi di Turki tiga bulan setelah menghilangnya Tulay.
"Apakah Mehmet mengatakan pada Anda bahwa mereka memberitahu Tulay telah bergabung dengan PKK (Partai Pekerja Kurdistan) dan kini sedang bergerilya bersama mereka?" tanya Turner.
Hanim menjawab bahwa ia ingat ada beberapa pria yang mengklaim sebagai anggota PKK namun menambahkan, "Saya tahu sejak awal bahwa Tulay telah meninggal."
Sebelumnya, para juri diberitahu untuk pertama kalinya bahwa Mehmet mengatakan telah menyuruh saudaranya, Ali, untuk membawa Tulay ke rumahnya yang lain di Cumbria di hari ia menghilang dan bahwa ia kemudian mendengar bahwa ia telah melarikan diri. Hanim membantah telah mendengar akan hal ini.
Ia menanyakan pada Hanim tentang tiga pria yang menghubungi keluarga itu dan mengklaim sebagai anggota PKK.
Inggris telah melihat lusinan wanita dibunuh oleh kerabat Muslimnya dalam sepuluh tahun terakhir karena melakukan perbuatan yang mereka anggap telah mempermalukan keluarga. Di tahun 2007, sebuah pengadilan memvonis seorang Syiah keturunan Kurdi yang merencanakan dan memerintahkan pembunuhan putrinya yang jatuh cinta dengan seorang pria yang tidak berasal dari desa mereka di Irak. (rin/tg/ss) www.suaramedia.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar